Beranda | Artikel
Turunnya Wahyu Untuk Pertama Kali
Sabtu, 20 Oktober 2012

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan dalam Sahihnya:

Yahya bin Bukair menuturkan kepada kami. Dia berkata: al-Laits menuturkan kepada kami, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari ‘Urwah bin Zubair, dari ‘Aisyah Ummul Mukminin. Beliau berkata: Wahyu yang pertama-tama datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berupa mimpi baik ketika tidur. Ketika itu, tidaklah beliau bermimpi kecuali tampak seperti terangnya pagi. Kemudian beliau mulai senang untuk menyendiri. Pada waktu itu beliau suka menyendiri di gua Hira’ dan melakukan tahannuts di sana -yaitu beribadah- selama beberapa malam sebelum akhirnya beliau pulang kepada keluarganya. Beliau pun telah menyiapkan bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang menemui Khadijah dan membawa bekal untuk kembali ke sana. Sampai suatu ketika datanglah kebenaran itu pada saat beliau berada di dalam gua Hira’. Malaikat datang kepadanya dan berkata, “Bacalah.” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Beliau menceritakan: Maka dia pun merengkuh badanku dan meliputi diriku hingga aku merasa tertekan. Lalu dia pun melepaskanku seraya berkata, “Bacalah.” Aku katakan, “Aku tidak bisa membaca.” Lalu dia kembali merengkuh badanku dan meliputi diriku untuk kedua kalinya hingga aku merasa tertekan. Lalu dia pun melepaskanku seraya berkata, “Bacalah.” Aku katakan, “Aku tidak bisa membaca.” Lalu dia kembali merengkuh badanku dan meliputi diriku untuk ketiga kalinya lalu dia melepaskanku. Dia pun berkata, “Bacalah, dengan nama Rabbmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmu yang paling mulia.” Maka setelah kejadian itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pulang dalam keadaan hatinya diliputi rasa takut. Lalu beliau masuk menemui Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu’anha, beliau berkata, “Selimutilah aku, selimutilah aku.” Maka mereka pun menyelimuti beliau hingga lenyaplah rasa takut darinya. Lalu beliau pun menceritakan berita kejadian itu kepada Khadijah, dan beliau berkata, “Aku khawatir terhadap keadaan diriku.” Khadijah pun berkata, “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu sama sekali. Engkau adalah orang yang suka menyambung silaturahmi, membantu orang yang lemah, memberikan usaha kepada orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan meringankan beban musibah yang menimpa orang.” Maka Khadijah pun membawa beliau untuk bertemu dengan Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza. Dia adalah anak paman Khadijah. Dia adalah orang yang memeluk ajaran Nasrani di masa Jahiliyah. Dia pandai menulis kitab dengan bahasa Ibrani, maka dia pun suka menulis Kitab Injil dengan bahasa Ibrani sebagaimana yang dia kehendaki. Dia adalah orang yang sudah tua renta dan buta. Khadijah berkata kepadanya, “Wahai putra pamanku. Dengarkanlah cerita dari putra saudaramu ini.” Lalu Waraqah pun bertanya kepada beliau, “Wahai anak saudaraku, apa yang telah kamu lihat?”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengabarkan kepadanya berita tentang apa yang telah dilihatnya. Waraqah pun berkata kepadanya, “Ini adalah Namus yang Allah turunkan kepada Musa. Aduhai, seandainya saja pada saat itu aku masih muda perkasa. Seandainya aku masih hidup pada saat kaummu mengusirmu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?”. Dia menjawab, “Ya. Tidaklah ada seorang lelaki pun yang datang membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa kecuali dia pasti dimusuhi. Dan apabila aku masih bisa menjumpai hari itu niscaya aku akan membelamu dengan sekuat tenagaku.” Tidak lama setelah peristiwa itu Waraqah pun meninggal dan terhentilah wahyu untuk sementara waktu (HR. Bukhari no. 3, diriwayatkan juga pada hadits no. 3392, 4953, 4955, 4956, 4957, dan 6982)

Faidah Hadits

Beberapa faidah pokok yang bisa dipetik dari hadits ini antara lain:

  1. Wahyu turun secara bertahap. Wahyu yang pertama kali turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -yang dengannya beliau diangkat menjadi nabi- adalah firman Allah dalam surat al-Qalam (Iqra’), “Bacalah, dengan nama Rabbmu yang telah menciptakan.” Wahyu ini turun ketika beliau berada di gua Hira’ melalui perantara malaikat Jibril ‘alaihis salam.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang ummi (tidak bisa baca-tulis). Oleh sebab itu ketika malaikat Jibril memerintahkannya untuk membaca beliau berkata, “Aku tidak bisa membaca.” Hal ini menjadi bantahan yang sangat jelas bagi orang-orang yang menuduh bahwa al-Qur’an adalah karangan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang memiliki akhlak yang mulia. Oleh sebab itu istrinya Khadijah radhiyallahu’anha berusaha menghibur beliau dengan menyebutkan keutamaan-keutamaannya agar beliau merasa tenang dan tidak mengkhawatirkan keadaan dirinya sendiri. Tidak mungkin Allah akan menghinakan beliau, sebab beliau adalah orang yang senantiasa berbuat kebajikan dan suka membantu sesama.
  4. Sebagai seorang istri yang bijaksana, Khadijah pun berusaha untuk mencari jalan keluar bagi masalah yang dihadapi oleh suaminya. Setelah mendengar penuturan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kejadian yang sangat luar biasa itu maka dia pun mengajak suaminya untuk menemui Waraqah bin Naufal; seorang saudaranya yang mengerti tentang ajaran kitab suci terdahulu yaitu Injil.
  5. Diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberitakan dalam kitab-kitab suci terdahulu. Hal ini tentu saja menunjukkan kemuliaan beliau dan ajaran yang beliau bawa. Selain itu, hal ini juga mengisyaratkan bahwasanya sesungguhnya hakikat ajaran yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul sebelumnya adalah sama, yaitu tauhid.
  6. Wajibnya beriman kepada kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi setiap orang yang mendengar diutusnya beliau. Ajaran yang beliau bawa menghapuskan syari’at yang diberlakukan pada umat-umat sebelumnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah mendengar tentang aku, seorang pun diantara umat ini, baik Yahudi ataupun Nasrani, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku bawa kecuali dia pasti termasuk golongan penghuni neraka.” (HR. Muslim)
  7. Tidaklah seorang menyampaikan ajaran sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan pasti akan mendapatkan penentangan dan permusuhan dari kaumnya. Sebagaimana dikatakan oleh Waraqah bin Naufal, “Tidaklah ada seorang lelaki pun yang datang membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa kecuali dia pasti dimusuhi.” Oleh sebab itu semestinya setiap juru dakwah senantiasa sabar dan tabah dalam menghadapi segala rintangan dan resiko dakwah yang dihadapinya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan teladan yang terbaik bagi kita dalam bersabar menghadapi cobaan dan tekanan dari orang-orang yang membenci dakwahnya.


Artikel asli: http://abumushlih.com/turunnya-wahyu-untuk-pertama-kali.html/